Jakarta, 5 September 2026 – Mantan atlet judo nasional Sadik Algadri menawarkan lima pilar reformasi yang dinilai dapat menjadi jalan keluar untuk membenahi pembangunan olahraga Indonesia agar mampu menghasilkan prestasi secara lebih konsisten. Gagasan tersebut dituangkan dalam bukunya berjudul Membangun Otot di Negeri Kertas yang dibedah di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu. Lima pilar yang ditawarkan mencakup reposisi peran negara, reformasi anggaran, birokrasi berbasis data, pembinaan berjenjang dan terintegrasi, serta kemandirian ekonomi olahraga. Sadik menilai Indonesia sebenarnya mempunyai potensi atlet yang sangat besar, tetapi potensi tersebut belum sepenuhnya didukung sistem yang bekerja secara berkesinambungan. Berbagai regulasi dan program telah tersedia, namun implementasinya masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama. Karena itu, buku tersebut tidak hanya berisi kritik terhadap kondisi olahraga nasional, tetapi juga menawarkan langkah yang menurutnya dapat diterapkan untuk memperkuat fondasi prestasi.
Pilar pertama yang ditawarkan Sadik adalah reposisi peran negara dalam pembangunan olahraga nasional. Menurut dia, negara harus mempunyai posisi kuat sebagai regulator dan fasilitator, tetapi tidak perlu terlalu jauh masuk ke wilayah teknis pembinaan yang menjadi kewenangan federasi olahraga. Federasi membutuhkan ruang profesional untuk mengelola cabang olahraga dengan melibatkan orang-orang yang mempunyai kompetensi teknis seperti pelatih, asisten pelatih, tenaga sport science, dan berbagai tenaga pendukung lainnya. Pemerintah dapat berkonsentrasi membangun regulasi, menyediakan fasilitas, mengembangkan kebijakan, dan memastikan ekosistem olahraga berjalan sehat. Sementara keputusan teknis mengenai pembinaan atlet sebaiknya berada pada pihak yang memahami karakter setiap cabang olahraga. Pembagian peran yang jelas dinilai dapat mengurangi tumpang tindih sekaligus meningkatkan profesionalisme dalam pengelolaan olahraga.
Pilar kedua berkaitan dengan reformasi anggaran karena pembinaan atlet tidak dapat berjalan maksimal apabila selalu bergantung pada anggaran tahunan yang berubah-ubah. Sadik yang juga menjadi Staf Ahli Komite Olahraga Nasional Indonesia Pusat menilai pembangunan prestasi membutuhkan perencanaan jangka panjang dengan dukungan pendanaan yang mempunyai kepastian. Seorang atlet tidak dapat dipersiapkan menjadi juara dunia hanya melalui program latihan yang berlangsung satu tahun atau mengikuti siklus administrasi anggaran pemerintah. Pembinaan membutuhkan proses bertahun-tahun mulai dari identifikasi bakat, peningkatan kemampuan teknik, penguatan fisik, pemenuhan nutrisi, kompetisi, hingga persiapan menghadapi turnamen internasional. Ketidakpastian anggaran berpotensi mengganggu program latihan dan kompetisi yang telah dirancang pelatih. Karena itu, sistem pendanaan perlu dibangun dengan perspektif jangka panjang sesuai kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Birokrasi berbasis data menjadi pilar ketiga yang dianggap penting untuk mengurangi keputusan nonteknis dalam proses pembinaan atlet. Sadik menekankan pemilihan atlet dan pelatih seharusnya tidak dilakukan berdasarkan kedekatan maupun kepentingan yang tidak berkaitan dengan prestasi. Rekam jejak, hasil pertandingan, perkembangan performa, kondisi fisik, dan berbagai indikator ilmiah harus menjadi dasar utama dalam mengambil keputusan. Penerapan sport science memungkinkan perkembangan atlet diukur secara lebih objektif sehingga program latihan dapat disesuaikan berdasarkan kebutuhan masing-masing individu. Pendekatan berbasis data juga membantu federasi mengevaluasi efektivitas pelatih dan program pembinaan yang telah berjalan. Dengan sistem yang transparan, kesempatan memperoleh pembinaan dapat diberikan kepada mereka yang benar-benar mempunyai kemampuan dan potensi berdasarkan indikator yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pilar keempat adalah pembangunan sistem pembinaan yang berjenjang dan terintegrasi dari daerah hingga tingkat nasional. Sadik menilai pencarian talenta harus dilakukan sejak usia dini karena Indonesia mempunyai wilayah luas dengan potensi atlet yang tersebar di berbagai daerah. Talenta yang ditemukan kemudian perlu masuk ke dalam jalur pembinaan yang jelas sehingga perkembangan mereka dapat dipantau secara berkelanjutan. Klub, sekolah, pemerintah daerah, federasi cabang olahraga, KONI, dan pemerintah pusat harus berada dalam ekosistem yang saling terhubung. Sistem tersebut diperlukan agar atlet berbakat tidak kehilangan kesempatan hanya karena berada jauh dari pusat pembinaan nasional. Kompetisi kelompok umur juga harus tersedia secara konsisten sehingga atlet mempunyai ruang untuk menguji kemampuan sekaligus memperoleh pengalaman pertandingan.
Kemandirian ekonomi olahraga menjadi pilar kelima yang ditawarkan Sadik untuk memperkuat keberlanjutan pembinaan. Menurut dia, olahraga prestasi tidak dapat selamanya menunggu dukungan pendanaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Industri olahraga perlu dikembangkan sehingga mempunyai sumber pendapatan yang lebih beragam dan mampu menopang pembinaan dalam jangka panjang. Sponsorship, hak siar, penjualan merchandise, penyelenggaraan kompetisi, serta berbagai aktivitas bisnis dapat menjadi bagian dari ekosistem tersebut. Namun pengembangan industri membutuhkan tata kelola profesional agar dunia usaha mempunyai kepercayaan untuk berinvestasi. Ketika cabang olahraga mampu menciptakan nilai ekonomi, sebagian pendapatan dapat dikembalikan untuk membiayai kompetisi, pembinaan atlet, pengembangan pelatih, dan peningkatan fasilitas.
Lima pilar tersebut lahir dari pengalaman Sadik melihat pembangunan olahraga Indonesia dari berbagai posisi, mulai sebagai atlet judo hingga terlibat dalam lingkungan birokrasi olahraga. Dari perjalanan tersebut, ia melihat persoalan utama bukan semata-mata kekurangan atlet berbakat, melainkan kemampuan sistem dalam mengembangkan potensi mereka sampai mencapai level tertinggi. Indonesia selama ini dinilai telah menghasilkan banyak dokumen kebijakan, anggaran, program, dan rapat mengenai pembangunan olahraga. Namun seluruh hal tersebut belum selalu diterjemahkan menjadi kualitas latihan, sport science yang presisi, pemenuhan nutrisi, kompetisi berkualitas, dan pelatih dengan kemampuan tinggi. Kondisi itulah yang melahirkan metafora “negeri kertas” dalam judul bukunya. Sementara “otot” menggambarkan kekuatan nyata yang dibutuhkan agar atlet Indonesia dapat berkembang menjadi juara.
Sadik menilai ketidakkonsistenan prestasi Indonesia pada berbagai kejuaraan internasional harus menjadi bahan evaluasi terhadap sistem pembinaan secara keseluruhan. Keberhasilan seorang atlet atau satu cabang olahraga tidak cukup apabila prestasi tersebut kemudian sulit dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Sistem yang kuat seharusnya mampu menghasilkan atlet berkualitas secara berulang tanpa terlalu bergantung pada kemunculan talenta luar biasa secara kebetulan. Karena itu, pembinaan perlu mempunyai kesinambungan dari level usia dini hingga elite dengan target yang terukur. Pelatih juga harus mendapatkan peningkatan kompetensi agar mampu mengikuti perkembangan metode latihan dan ilmu keolahragaan modern. Infrastruktur dan fasilitas pendukung pada saat bersamaan harus tersedia agar program yang dirancang dapat diterapkan secara optimal.
Bedah buku Membangun Otot di Negeri Kertas turut menghadirkan akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Prof. Yunyun Yudiana. Kehadiran pembicara dari latar belakang berbeda membuat persoalan olahraga dibahas tidak hanya dari sudut pandang prestasi pertandingan, tetapi juga kebijakan publik, pendidikan, keilmuan, tata kelola, dan peran media. Rocky menyoroti banyaknya regulasi dan konsep teknokratis dalam olahraga Indonesia yang harus dibuktikan melalui implementasi nyata. Sport science, pengembangan atlet jangka panjang, serta Desain Besar Olahraga Nasional tidak cukup apabila berhenti menjadi istilah maupun dokumen kebijakan. Tantangan terbesar berada pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan menerjemahkan konsep tersebut menjadi sistem yang benar-benar bekerja. Dialog tersebut diharapkan memperluas pembahasan mengenai perubahan yang diperlukan dalam pembangunan olahraga nasional.
Sadik menegaskan lima pilar reformasi yang ditawarkan bukan sekadar gagasan ideal, melainkan pilihan yang membutuhkan keberanian untuk dieksekusi oleh para pemangku kepentingan. Indonesia dinilai telah mempunyai modal berupa jumlah penduduk besar, keragaman talenta, tradisi olahraga, serta pengalaman menghasilkan atlet berprestasi di tingkat dunia. Tantangannya adalah membangun ekosistem yang memastikan potensi tersebut tidak hilang akibat pembinaan yang terputus, pendanaan tidak stabil, keputusan nonteknis, atau tata kelola yang kurang profesional. Reformasi juga membutuhkan konsistensi karena hasil pembangunan olahraga tidak selalu dapat terlihat dalam waktu singkat. Apabila negara, federasi, dunia usaha, akademisi, pelatih, dan masyarakat mampu bergerak dalam sistem yang terintegrasi, prestasi dapat dibangun secara lebih berkelanjutan. Melalui Membangun Otot di Negeri Kertas, Sadik berharap Indonesia bergerak dari negara yang kuat dalam perencanaan menjadi kekuatan olahraga yang benar-benar diperhitungkan di panggung internasional.