Jakarta, 20 September 2026 – Pelatih kepala MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Jacksen F. Tiago menilai Seri 1 musim 2026/2027 menunjukkan perkembangan signifikan dalam kualitas permainan para peserta. Peningkatan tersebut terlihat tidak hanya dari keberanian pemain saat berada di lapangan, tetapi juga kemampuan teknik dasar yang semakin baik. Para pemain dinilai lebih percaya diri ketika menggiring bola, mampu melakukan umpan secara lebih terarah, serta menunjukkan kontrol bola yang semakin matang. Pemahaman mengenai permainan secara kolektif juga mulai terbentuk pada pemain usia dini. Perkembangan tersebut menjadi indikasi positif bagi pembinaan sepak bola putri Indonesia.
Jacksen melihat kemampuan peserta mengalami peningkatan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Menurut mantan pelatih Persebaya Surabaya tersebut, pemain kini mulai memahami bagaimana menjalankan permainan sebagai sebuah tim dan tidak hanya mengandalkan kemampuan individu. Perubahan itu terlihat dari cara mereka membangun serangan, mengalirkan bola, serta mengambil keputusan ketika menghadapi tekanan lawan. Kemampuan teknis yang terus berkembang dinilai menjadi fondasi penting sebelum pemain memasuki tingkat kompetisi yang lebih tinggi. Jacksen mengaitkan perkembangan tersebut dengan pembinaan yang dilakukan secara konsisten melalui kompetisi usia dini.
MLSC Seri 1 2026/2027 di Jakarta Raya dan Yogyakarta menyelesaikan pertandingan puncaknya pada Minggu (20/9/2026). Di Jakarta, SDN Gedong 03 keluar sebagai juara kelompok usia 10 tahun setelah mengalahkan UPTD SDN Mampang 1 dengan skor 3-0. Sementara pada kelompok usia 12 tahun, SDN Cipayung 02 berhasil merebut gelar juara. Turnamen Jakarta Raya diikuti 1.928 atlet dari 111 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Sebanyak 53 tim tampil di kategori KU 10 dan 123 tim berkompetisi pada KU 12.
Persaingan juga berlangsung di Yogyakarta dengan melibatkan 1.294 atlet dari 76 sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah. Sebanyak 40 tim mengikuti kategori KU 10, sedangkan 83 tim tampil pada kategori KU 12. SD Tarakanita Bumijo I muncul sebagai juara baru KU 10, sementara SD Muhammadiyah Sapen mempertahankan dominasinya dengan menjadi juara KU 12. Banyaknya peserta dari dua wilayah tersebut menunjukkan besarnya minat terhadap sepak bola putri di tingkat sekolah. MLSC Seri 1 musim ini secara keseluruhan diselenggarakan di 15 kota.
Program Manager MLSC Welly Arisanto menilai perkembangan tidak hanya terlihat dari jumlah peserta, tetapi juga dukungan yang diberikan keluarga kepada para pemain. Antusiasme orang tua yang hadir mendampingi anak-anak dinilai memiliki peran penting dalam membangun mental dan kepercayaan diri pemain. Munculnya sekolah-sekolah baru sebagai juara juga memperlihatkan persaingan yang semakin merata. Kondisi tersebut membuat kompetisi tidak hanya dikuasai oleh sekolah yang sebelumnya memiliki tradisi sepak bola kuat. Ekosistem pembinaan pun dinilai mulai terbentuk melalui hubungan antara sekolah, kompetisi, pelatih, pemain, dan keluarga.
Jacksen menekankan keberadaan kompetisi berjenjang memberikan pemain pengalaman pertandingan yang sulit diperoleh hanya melalui latihan. Pemain dapat belajar menghadapi tekanan, memahami posisi, bekerja sama, serta membangun kebiasaan menjalani pertandingan secara serius sejak usia muda. Ia menilai kesinambungan kompetisi menjadi salah satu faktor penting agar kemampuan yang telah berkembang tidak berhenti pada satu kelompok usia. MLSC juga kembali menghadirkan Festival SenengSoccer untuk kategori usia delapan tahun sebagai tahap pengenalan sepak bola kepada pemain yang lebih muda. Di Jakarta Raya kegiatan tersebut diikuti 76 siswi dari 21 sekolah, sedangkan Yogyakarta melibatkan 65 peserta dari 19 sekolah.
Perkembangan tersebut turut dikaitkan Jacksen dengan target jangka panjang sepak bola putri Indonesia untuk menembus putaran final Piala Dunia 2035. Ia menilai target itu membutuhkan pembinaan yang konsisten dan tidak dapat bergantung pada program jangka pendek. Kompetisi usia dini menjadi salah satu fondasi untuk menemukan sekaligus mengembangkan pemain potensial sebelum mereka memasuki jenjang pembinaan berikutnya. Peningkatan teknik dasar dan pemahaman permainan yang terlihat pada MLSC Seri 1 menjadi salah satu indikator bahwa proses tersebut mulai menghasilkan perkembangan. Jika kesinambungan kompetisi dan pembinaan dapat dipertahankan, basis pemain sepak bola putri Indonesia berpeluang semakin luas dalam beberapa tahun mendatang.