Jakarta, 3 September 2026 – Southeast Asia Public Policy Institute (SEAPPI) menilai Indonesia memiliki peluang besar memperoleh manfaat ekonomi dari perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), dengan potensi nilai yang diperkirakan mencapai sekitar Rp5,8 kuadriliun. Besarnya peluang tersebut tidak otomatis dapat diraih hanya dengan meningkatnya penggunaan teknologi AI di berbagai sektor. Indonesia dinilai perlu menyiapkan fondasi yang kuat melalui pengembangan sumber daya manusia, penyediaan infrastruktur digital yang memadai, serta kebijakan dan tata kelola yang mampu mendukung inovasi sekaligus mengendalikan risiko. Kemampuan mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas produktif menjadi faktor penting agar teknologi tersebut menghasilkan nilai tambah nyata bagi perekonomian. Pemanfaatannya juga perlu diperluas dari perusahaan teknologi besar menuju sektor-sektor ekonomi yang memiliki dampak langsung terhadap produktivitas nasional. Dengan strategi yang tepat, AI berpeluang menjadi salah satu pendorong transformasi ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Pengembangan keterampilan tenaga kerja menjadi salah satu fondasi penting karena adopsi AI berpotensi mengubah kebutuhan kompetensi pada berbagai jenis pekerjaan. Teknologi tersebut dapat membantu mengotomatisasi pekerjaan rutin, mempercepat pengolahan informasi, meningkatkan kemampuan analisis, serta mendukung pengambilan keputusan yang sebelumnya membutuhkan proses lebih panjang. Perubahan tersebut membuat pekerja membutuhkan kemampuan baru agar dapat memanfaatkan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan sekadar menghadapi teknologi sebagai pengganti sebagian tugas manusia. Pendidikan formal, pelatihan vokasi, program peningkatan keterampilan, serta pembelajaran sepanjang hayat perlu semakin disesuaikan dengan kebutuhan ekonomi digital. Kemampuan memahami data, menggunakan perangkat berbasis AI, berpikir kritis, dan memecahkan persoalan akan semakin dibutuhkan di berbagai sektor. Penyiapan tenaga kerja tersebut menjadi penting agar manfaat ekonomi AI dapat tersebar lebih luas dan tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok dengan kemampuan teknologi tinggi.
Infrastruktur digital menjadi faktor lain yang menentukan kemampuan Indonesia mengembangkan dan menggunakan AI dalam skala besar. Sistem AI membutuhkan konektivitas, pusat data, kapasitas komputasi, penyimpanan, serta ketersediaan data yang dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab. Ketimpangan akses digital antarwilayah dapat menjadi hambatan apabila perusahaan dan masyarakat di luar pusat ekonomi tidak memperoleh kesempatan yang sama dalam mengadopsi teknologi. Karena itu, peningkatan kualitas jaringan dan pemerataan akses internet perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekosistem AI nasional. Ketersediaan infrastruktur yang kuat juga dibutuhkan untuk mendorong tumbuhnya perusahaan rintisan dan pengembang lokal yang ingin membangun solusi berbasis AI. Semakin mudah akses terhadap teknologi dan kapasitas komputasi, semakin besar peluang inovasi berkembang dari berbagai wilayah dan sektor ekonomi.
Tata kelola menjadi bagian penting lainnya karena pertumbuhan penggunaan AI membawa tantangan yang berbeda dibandingkan teknologi digital konvensional. Penggunaan data dalam jumlah besar menimbulkan kebutuhan perlindungan privasi, keamanan informasi, transparansi, serta kejelasan mengenai tanggung jawab ketika sistem menghasilkan keputusan yang berdampak kepada masyarakat. Pemerintah perlu membangun kebijakan yang mampu memberikan kepastian tanpa menciptakan hambatan berlebihan terhadap inovasi. Pendekatan regulasi juga perlu mempertimbangkan karakteristik risiko dari masing-masing penggunaan AI karena teknologi yang digunakan untuk kebutuhan sederhana memiliki konsekuensi berbeda dibandingkan penerapan pada layanan kesehatan, keuangan, pendidikan, atau pelayanan publik. Kejelasan aturan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan dunia usaha untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Pada saat bersamaan, tata kelola yang adaptif dapat memberikan ruang bagi perusahaan Indonesia untuk terus melakukan eksperimen dan mengembangkan produk baru.
Potensi ekonomi senilai sekitar Rp5,8 kuadriliun menunjukkan besarnya ruang yang dapat terbuka apabila AI berhasil meningkatkan produktivitas berbagai sektor. Manfaatnya dapat muncul melalui efisiensi operasional, pengurangan biaya, peningkatan kualitas produk, penciptaan layanan baru, hingga munculnya model bisnis yang sebelumnya tidak memungkinkan. Industri manufaktur dapat menggunakan AI untuk mengoptimalkan produksi dan pemeliharaan mesin, sementara sektor keuangan dapat memanfaatkannya untuk analisis risiko dan peningkatan pelayanan. Pada sektor pertanian, teknologi dapat membantu pengolahan data mengenai kondisi tanaman, cuaca, dan kebutuhan produksi sehingga keputusan dapat dilakukan lebih akurat. Sektor kesehatan juga mempunyai peluang menggunakan AI sebagai pendukung analisis data dan peningkatan efisiensi pelayanan. Luasnya penerapan tersebut menunjukkan bahwa dampak AI terhadap perekonomian tidak terbatas pada industri teknologi informasi.
Usaha mikro, kecil, dan menengah juga menjadi kelompok yang penting dalam upaya memperluas manfaat AI karena memiliki kontribusi besar terhadap kegiatan ekonomi Indonesia. Teknologi AI semakin dapat digunakan untuk membantu pembuatan materi pemasaran, pengelolaan inventaris, pelayanan konsumen, analisis penjualan, hingga penyusunan strategi bisnis. Namun, kemampuan UMKM mengadopsi teknologi masih dipengaruhi oleh keterampilan digital, biaya, akses terhadap perangkat, dan pemahaman mengenai manfaat yang dapat diperoleh. Dukungan terhadap UMKM karena itu perlu diarahkan pada penggunaan teknologi yang sederhana, relevan, dan memberikan hasil langsung terhadap kegiatan usaha. Pelatihan yang terlalu teknis tanpa hubungan dengan kebutuhan bisnis sehari-hari berisiko membuat pemanfaatan AI sulit berkembang. Apabila hambatan tersebut dapat dikurangi, teknologi AI dapat menjadi alat untuk meningkatkan daya saing pelaku usaha kecil sekaligus memperluas produktivitas ekonomi.
Indonesia juga memiliki peluang membangun ekosistem AI yang lebih kuat dengan memanfaatkan besarnya pasar domestik dan kebutuhan solusi pada berbagai sektor. Pengembangan teknologi yang memahami bahasa, budaya, serta karakteristik masyarakat Indonesia dapat menciptakan nilai yang tidak selalu dapat dipenuhi produk yang dikembangkan untuk pasar global. Perusahaan lokal dan institusi penelitian mempunyai ruang untuk menciptakan solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan, kesehatan, pertanian, pelayanan pemerintahan, perdagangan, maupun industri kreatif. Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan teknologi, dan dunia usaha diperlukan agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi produk yang digunakan secara luas. Ketersediaan talenta dan akses terhadap pendanaan juga menentukan kemampuan perusahaan lokal berkembang menghadapi persaingan global. Ekosistem yang sehat dapat membuat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi turut menghasilkan inovasi dan kekayaan intelektual.
Pada saat yang sama, transformasi AI membawa tantangan terhadap struktur pekerjaan yang perlu diantisipasi sejak dini. Sejumlah tugas administratif dan pekerjaan berulang berpotensi semakin banyak dibantu atau diotomatisasi oleh teknologi, sementara permintaan terhadap kemampuan baru dapat meningkat. Perubahan tersebut tidak selalu berarti hilangnya pekerjaan secara keseluruhan karena banyak profesi dapat mengalami perubahan pada jenis tugas yang dikerjakan. Tantangan utama adalah memastikan proses transisi berjalan cukup cepat sehingga pekerja memiliki kesempatan memperoleh keterampilan yang dibutuhkan. Pemerintah dan dunia usaha dapat berperan melalui program peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang yang disesuaikan dengan perubahan kebutuhan industri. Tanpa langkah tersebut, manfaat peningkatan produktivitas berisiko berjalan bersamaan dengan meningkatnya kesenjangan keterampilan di pasar tenaga kerja.
Pemanfaatan AI di sektor publik juga dapat menjadi bagian dari upaya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih luas. Pemerintah mengelola data dan pelayanan dalam skala besar sehingga teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi administrasi, membantu analisis kebijakan, serta mempercepat pelayanan kepada masyarakat. Penerapan tersebut tetap membutuhkan pengamanan yang kuat karena keputusan pemerintah dapat berpengaruh langsung terhadap hak dan kepentingan warga. Sistem yang digunakan harus memiliki mekanisme pengawasan manusia, perlindungan data, dan proses evaluasi yang memungkinkan kesalahan diperbaiki. Pengalaman pemerintah dalam menggunakan AI secara bertanggung jawab juga dapat menjadi contoh bagi penerapan teknologi pada sektor lainnya. Keberhasilan transformasi digital pemerintahan berpotensi menghasilkan efisiensi sekaligus meningkatkan kualitas layanan publik.
Besarnya potensi ekonomi AI hingga sekitar Rp5,8 kuadriliun pada akhirnya akan sangat bergantung pada kemampuan Indonesia mengubah peluang teknologi menjadi peningkatan produktivitas yang nyata. Pengembangan talenta, penguatan infrastruktur digital, serta tata kelola yang adaptif perlu berjalan secara bersamaan karena kelemahan pada salah satu unsur dapat menghambat keseluruhan ekosistem. Indonesia juga perlu memastikan transformasi tersebut dapat diakses oleh UMKM, pekerja, masyarakat di berbagai wilayah, serta sektor ekonomi yang selama ini belum banyak memanfaatkan teknologi maju. Pendekatan yang inklusif akan membuat nilai ekonomi AI tidak hanya dinikmati perusahaan besar atau pusat-pusat ekonomi digital. Kolaborasi pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi penting untuk mempercepat pengembangan sekaligus menjaga penggunaan teknologi tetap bertanggung jawab. Jika fondasi tersebut dibangun secara konsisten, AI berpeluang menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan produktivitas, daya saing, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.