Palangka Raya, 29 Agustus 2026 – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran meminta masyarakat ikut berperan aktif mengungkap dugaan pembakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah. Untuk mendorong keberanian warga memberikan informasi, Agustiar menyiapkan hadiah sebesar Rp5 juta bagi masyarakat yang memberikan informasi akurat hingga membantu mengungkap pelaku pembakaran. Kebijakan tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah untuk mempersempit ruang gerak pihak yang diduga sengaja membakar lahan di tengah tingginya risiko kebakaran selama musim kemarau. Agustiar menegaskan informasi yang diberikan harus benar-benar berdasarkan fakta dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar dugaan tanpa dasar.
Agustiar menyampaikan hal tersebut saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada Jumat, 28 Agustus 2026. Dalam kunjungan itu, ia bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah meninjau kondisi karhutla sekaligus melihat langsung upaya penanganan di lapangan. Pemerintah provinsi menilai kondisi kemarau tahun ini membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi karena lahan yang kering membuat api lebih mudah menyebar. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan petugas pemadam, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk mendeteksi aktivitas pembakaran sejak awal.
Pemberian hadiah Rp5 juta tersebut ditujukan kepada warga yang memberikan informasi valid mengenai pihak yang diduga melakukan pembakaran secara sengaja. Agustiar menyatakan identitas pelapor akan dirahasiakan sehingga masyarakat tidak perlu khawatir ketika menyampaikan informasi kepada pemerintah maupun aparat. Namun, ia juga memberikan penekanan agar kesempatan tersebut tidak digunakan untuk menuduh orang lain secara sembarangan. Informasi harus benar dan memiliki dasar yang jelas karena laporan palsu atau tuduhan tanpa bukti justru dapat menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat yang sedang menghadapi ancaman karhutla.
Menurut Agustiar, faktor manusia diduga menjadi salah satu penyebab utama kebakaran lahan di sejumlah wilayah Kalteng. Pembakaran dapat terjadi ketika masyarakat membuka lahan atau membersihkan area dengan menggunakan api, sementara kondisi cuaca kering membuat api sulit dikendalikan. Api yang awalnya berada di area kecil dapat dengan cepat merambat ke vegetasi kering dan kawasan lainnya apabila tidak segera dipadamkan. Situasi tersebut membuat pemerintah terus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sembarangan, terutama ketika kondisi angin dan kelembapan meningkatkan risiko penyebaran api.
Gubernur juga menyinggung adanya pengungkapan kasus di Kabupaten Pulang Pisau yang memperkuat dugaan bahwa sebagian kebakaran dapat berkaitan dengan aktivitas manusia yang dilakukan secara sengaja. Dalam kasus tersebut, aparat mengamankan dua orang yang diduga memiliki keterkaitan dengan pembakaran di sejumlah lokasi. Agustiar menyebut adanya dugaan aktivitas pembakaran yang terkoordinasi sehingga perlu mendapat perhatian serius dari aparat penegak hukum. Temuan tersebut menjadi alasan tambahan bagi pemerintah untuk meminta masyarakat tidak tinggal diam apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan yang berpotensi memicu kebakaran.
Selain mengandalkan laporan masyarakat, pemerintah daerah terus memperkuat penanganan langsung terhadap titik api yang muncul. Personel gabungan dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan agar api tidak kembali menyala setelah berhasil dikendalikan. Sejumlah wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat juga membutuhkan dukungan armada udara untuk mempercepat proses pemadaman. Upaya tersebut menjadi penting karena kebakaran yang berada jauh di dalam kawasan hutan atau lahan gambut dapat membutuhkan waktu lebih lama untuk ditangani jika hanya mengandalkan personel di permukaan.
Kondisi karhutla di Kalteng juga menjadi perhatian karena luas lahan yang terbakar telah mendekati 8.000 hektare. Angka tersebut memang masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, ketika luas lahan terbakar mencapai sekitar 23.000 hektare atau lebih. Meski demikian, pemerintah tidak ingin menjadikan perbandingan tersebut sebagai alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Musim kemarau masih berlangsung dan kondisi cuaca dapat berubah dengan cepat sehingga titik api baru tetap berpotensi muncul apabila pencegahan tidak dilakukan secara konsisten.
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan vegetasi dan kawasan hutan, tetapi juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Asap hasil kebakaran dapat menurunkan kualitas udara, mengganggu jarak pandang, serta memengaruhi aktivitas warga di berbagai bidang. Apabila kebakaran semakin meluas, masyarakat dapat menghadapi gangguan terhadap kegiatan ekonomi, pendidikan, transportasi, maupun pelayanan publik. Karena itu, mencegah kebakaran sejak awal dinilai jauh lebih efektif dibandingkan menunggu api meluas dan membutuhkan sumber daya yang lebih besar untuk memadamkannya.
Pemerintah Kalteng juga mendorong penguatan koordinasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, kepolisian, TNI, BPBD, pemadam kebakaran, serta kelompok masyarakat. Setiap unsur memiliki peran dalam mendeteksi, menangani, dan mencegah kebakaran agar tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar. Masyarakat berada pada posisi penting karena warga dapat menjadi pihak pertama yang mengetahui adanya aktivitas pembakaran atau munculnya titik api di sekitar lingkungan mereka. Informasi yang cepat dan akurat dapat membantu petugas bergerak lebih awal sebelum api meluas ke kawasan yang lebih sulit dijangkau.
Dengan menyiapkan hadiah Rp5 juta, Agustiar berharap masyarakat semakin berani membantu pemerintah mengungkap dugaan pelaku pembakaran lahan. Program tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan budaya saling menuduh, melainkan mendorong partisipasi warga dalam menjaga lingkungan dan membantu aparat melakukan penegakan hukum. Pemerintah juga meminta masyarakat tetap mengedepankan kehati-hatian dengan memastikan setiap informasi yang disampaikan benar dan tidak mengandung fitnah. Di tengah musim kemarau yang masih berisiko tinggi, kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci agar karhutla di Kalteng dapat ditekan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.