Lebak, 28 Juli 2026 – Pemandangan sisa permukiman lama yang kembali muncul di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten, menarik perhatian masyarakat setelah muka air waduk mengalami penurunan pada musim kemarau. Tembok-tembok rumah tanpa atap yang sebelumnya berada di kawasan genangan kembali terlihat, terutama di wilayah hulu yang mencakup Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira. Fenomena tersebut kemudian ramai diperbincangkan karena memberikan gambaran seperti sebuah kampung yang muncul kembali setelah sebelumnya terendam air. Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian atau BBWS C3 menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan turunnya muka air waduk dan bukan menunjukkan adanya gangguan pada fungsi bendungan. Muka air dilaporkan turun sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal, sementara penyusutannya disebut berada di kisaran 5 persen. BBWS C3 memastikan tampungan Bendungan Karian masih berada dalam batas aman untuk memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi.
Bangunan yang kembali terlihat tersebut merupakan sisa permukiman yang berada di area hulu Bendungan Karian. Menurut penjelasan BBWS C3, kawasan itu sebelumnya memang merupakan daerah permukiman padat sebelum pembangunan dan pengisian waduk dilakukan. Lokasinya berada sekitar 16 kilometer dari as bendungan dan memiliki elevasi yang membuat sebagian area dapat terlihat ketika muka air mengalami penurunan. Karena berada pada ujung kawasan genangan, perubahan elevasi air relatif mudah membuat sisa bangunan kembali muncul ke permukaan. Kondisi tersebut berbeda dengan bagian waduk yang memiliki kedalaman lebih besar dan tetap tertutup air ketika terjadi penyusutan dalam batas normal. Fenomena yang terlihat saat ini pun berkaitan dengan karakter topografi kawasan dan perubahan muka air selama periode kemarau.
BBWS C3 juga memberikan penjelasan mengenai alasan sisa rumah tersebut masih dapat terlihat dalam bentuk tembok bangunan. Ketika kawasan dibebaskan untuk pembangunan bendungan, tidak seluruh struktur bangunan yang terdampak dibongkar sampai habis. Proses pembersihan yang dilakukan tim konstruksi terutama diarahkan pada tanaman dan vegetasi yang berada di kawasan genangan. Akibatnya, sebagian struktur rumah tetap berada di lokasi ketika proses pengisian awal Bendungan Karian dilakukan. Ketika air berada pada elevasi lebih tinggi, bangunan tersebut tertutup genangan sehingga tidak terlihat seperti saat ini. Penurunan muka air kemudian membuat struktur yang masih tersisa kembali muncul dan terlihat jelas dari kawasan sekitar waduk.
Kemunculan kembali permukiman lama juga berkaitan dengan sejarah pembangunan Bendungan Karian yang mengubah penggunaan kawasan tersebut. Bendungan ini dibangun sejak Oktober 2015 dan rampung pada 2023, kemudian memasuki tahapan pengisian awal setelah kawasan terdampak dibebaskan. Dalam proses pembangunan, warga dari sejumlah kampung direlokasi, termasuk Kampung Susukan, Kampung Cibolang, dan Kampung Karian. Pembebasan lahan proyek mencakup sekitar 2.226,44 hektare, sementara berbagai fasilitas umum juga dipindahkan dari kawasan terdampak. Setelah kawasan dikosongkan, air mulai mengisi area yang sebelumnya menjadi permukiman dan aktivitas masyarakat. Karena itu, bangunan yang terlihat sekarang merupakan bagian dari kawasan lama yang telah ditinggalkan sebelum waduk beroperasi.
Meski kemunculan rumah-rumah tersebut terlihat mencolok, BBWS C3 menegaskan penyusutan air masih merupakan kondisi yang wajar pada musim kemarau. Kepala BBWS C3 Dedi Yudha Lesmana menyebut penurunan sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal masih berada dalam batas aman operasi waduk. Tampungan air juga disebut masih mampu memenuhi kebutuhan air baku serta mendukung suplai irigasi. Pengelola tetap melakukan pengaturan terhadap ketersediaan air agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi selama periode kemarau. Kondisi bangunan yang terlihat kembali dengan demikian tidak menjadi indikator bahwa Bendungan Karian mengalami persoalan struktural maupun kehilangan fungsi utamanya. Pengelolaan tampungan terus dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan air selama musim kering yang diperkirakan masih berlangsung.
Keberadaan Bendungan Karian memiliki fungsi strategis karena kapasitas tampungannya mencapai sekitar 314,7 juta meter kubik. Bendungan tersebut dirancang untuk mendukung penyediaan air bagi wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, hingga DKI Jakarta. Selain kebutuhan air baku, keberadaan waduk juga memiliki hubungan dengan dukungan terhadap sistem irigasi di wilayah layanan. Karena cakupan pemanfaatannya cukup luas, pengelolaan volume air selama kemarau menjadi bagian penting untuk mempertahankan keberlanjutan pasokan. BBWS C3 menyatakan ketersediaan air masih mencukupi meskipun terjadi penurunan elevasi pada akhir Juli 2026. Pengelola juga terus menjaga tampungan bendungan dan bendung agar kebutuhan masyarakat tetap dapat dilayani hingga memasuki masa transisi menuju musim hujan.
Fenomena munculnya kembali rumah lama di Bendungan Karian akhirnya menjadi gambaran bagaimana perubahan muka air dapat memperlihatkan kembali jejak kawasan yang sebelumnya telah berubah menjadi area genangan. Sisa tembok permukiman di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya muncul karena elevasi air menurun selama musim kemarau, sementara struktur bangunan memang tidak seluruhnya dibongkar ketika kawasan dipersiapkan menjadi waduk. BBWS C3 memastikan kondisi tersebut masih normal dan tampungan air Bendungan Karian tetap aman untuk mendukung kebutuhan air baku serta irigasi. Masyarakat karena itu tidak perlu langsung mengaitkan kemunculan bangunan dengan persoalan pada konstruksi atau fungsi bendungan. Kondisi muka air tetap menjadi bagian yang dipantau selama kemarau agar pemanfaatan tampungan dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Di sisi lain, munculnya kembali bekas permukiman tersebut menjadi pengingat visual mengenai kawasan yang pernah dihuni masyarakat sebelum pembangunan Bendungan Karian mengubah bentang wilayah tersebut.